Suatu hari,
saya mengunjungi tempat service HP,
karena ingin memperbaiki HP yang sedang bermasalah.
Setelah HP tersebut di otak-atik selama 30 menit, tukang service-nya berkata,
"Mas, HP-nya rusak parah karena sudah terlalu lama terkena virus.
Saran saya, BELI HP BARU saja ya sebab jikalau diperbaiki justru akan mengeluarkan biaya yg cukup mahal."
Perkataannya itu membuat saya merenung,
"Jika HP saya yang rusak ini masih mungkin untuk diperbaiki, bahkan dapat membeli lagi yang baru jika rusaknya terlalu parah, lalu bagaimana dengan HATI kita yang rusak?
Dimana dan dengan cara apa kita dapat memperbaikinya?
Atau bahkan adakah yang menjual HATI pengganti jika ternyata yang dimiliki oleh kita telah rusak parah?"
Astaghfirullah ...
Akhirnya, saya tersadar
bahwa tidak ada tukang service HATI di dunia ini,
tidak ada pula penjual HATI cadangan/pengganti tatkala mengalami kerusakan.
Padahal ...
jika HATI ini telah rusak,
maka akan sangat membahayakan untuk diri sendiri dan orang lain di lingkungan sekitar kita.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah HATI."
(HR. Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)
Sahabatku ...
Service-lah HATI kita sebaik mungkin agar senantiasa menjadi terjaga buahnya!
Ketika Ramadlan tiba,
kita menjadikannya sebagai momen yang sangat tepat untuk memperbaiki hati.
Ketika Ramadlan berlalu, semoga kita tetap dapat membawa semangatnya sebagai momentum perbaikan diri secara kontinu.
Semoga Tilawah kita akan mampu melembutkan hati yang sudah semakin mengeras,
sehingga kita bisa memperoleh hidayah dan meraih predikat takwa.
Aamiin Allahumma Aamiin...
Tuesday, July 12, 2016
Kenapa Seorang Mayit Memilih "BERSEDEKAH" Jika Bisa Kembali Hidup ke Dunia?
Sebagaimana firman Allah:
Bismillahirrohman nirrohim
رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ
"Wahai Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda [kematian]ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah..." {QS. Al Munafiqun: 10}
Kenapa dia tdk mengatakan,
"Maka aku dapat melaksanakan umroh"
"Maka aku dapat melakukan sholat atau puasa" dll?
Berkata para ulama,
Tidaklah seorang mayit menyebutkan "sedekah" kecuali karena dia melihat besarnya pahala dan imbas baiknya setelah dia meninggal...
Maka, perbanyaklah bersedekah, karena seorang mukmin akan berada dibawah naungan sedekahnnya...
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda,
“Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya, hingga diputuskan perkara-perkara di antara manusia.” (HR. Ahmad)
Dan, bersedekah-lah atas nama org org yg sudah meninggal diantara kalian, karena sesungguhnya mrk sangat berharap kembali ke dunia untuk bisa bersedekah dan beramal shalih, maka wujudkanlah harapan mrk...
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ada seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia mengatakan,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ibuku tiba-tiba saja meninggal dunia dan tidak sempat menyampaikan wasiat padaku. Seandainya dia ingin menyampaikan wasiat, pasti dia akan mewasiatkan agar bersedekah untuknya. Apakah Ibuku akan mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya”. (HR. Bukhari & Muslim) *
Dan, biasakan, ajarkan anak-anak kalian untuk bersedekah...
Dan sedekah yg paling utama saat ini adalah; menyebarkan tulisan ini dengan niat sedekah,
Karena siapa saja yg mempraktekkan isi tulisan ini, dan mengajarkannya untuk generasi berikutnya, maka pahala-nya akan kmbali kpd anda insyaAllah.
Nasihat dari :
Syeikh Maher al-Mueaqly hafidzahullah
[Imam Masjidil Haram]
JANGAN PERNAH BERSANDAR PADA AMAL
Ada 4 pria berbicara tentang amal ibadah mereka & kesuksesan yg didapat.
Pria 1 : Alhamdulillah, sejak sering shalat dhuha rejeki menjadi lancar. Bisnis sukses sebentar lagi anak saya lulus smu rencananya akan sekolah ke luar negeri.
Pria 2 : Bukan main, hebat sekali, sejak naik haji/umroh ibadahku semakin rajin, alhamdulillah anak juga sukses, rumahnya harganya milyaran, aset bertambah, orang tua sangat bangga, berkat doa saya.
Pria 3 : Masya Allah sungguh nikmat tak terkira sejak rajin puasa dan bersedekah rezeki bagaikan sungai mengalir tidak ada putus-putusnya. Anak baru selesai kuliah diluar negeri dan jadi staff khusus mentri.
Ketiga pria tersebut kemudian melirik ke arah pria ke-4 sejak tadi hanya terdiam. Salah satu bertanya kepada pria 4. “Bagaimana dirimu? Kawan mengapa diam saja?”.
Pria 4 : Saya tidak sehebat kalian, jangankan kesuksesan bahkan saya tidak tahu ibadah yang saya lakukan diterima oleh Allah SWT atau tidak.
Saya tahu ibadah diterima dan sukses setelah saya meninggal nanti.
Jadi saya merasa belum bisa menceritakan ibadah yang saya lakukan dan balasan yang Allah berikan kpd saya.
# Jangan bersandar pada amal.
Sebab dari *ketertipuan* ini adalah sikap bersandar kpd amal secara berlebih. Ini akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan akhlak buruk kepada Allah Ta’ala.
Orang yang melakukan *amal ibadah* tidak tahu apakah amalnya *diterima atau tidak*.
Mereka tidak tahu betapa besar dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya *bernilai keikhlasan* atau tidak.
Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk meminta rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
*Diriwayatkan dari Abu Hurairah :* "Sungguh amal seseorang tidak akan memasukannya ke dalam surga."
Mereka bertanya, "Tidak pula engkau ya Rasulullah?"
*Beliau menjawab :*
"Tidak pula saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya.Karenanya berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang (tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah)".
(HR. Bukhari dan Muslim)
Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikn taufiq untuk beramal dan hidayah untuk taat kepada-Nya.
Karenanya, kita wajib bersyukur kepada Allah dan merendah diri kepada-Nya. Tidak layak hamba bersandar kepada amalnya.
Seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang se-olah2 bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi ada perasaan telah memberikan kebaikan untuk Allah.
Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba2Nya. Dia Maha Kaya, tidak butuh kepada makhluk-Nya.
Wallahu Ta'ala A'lam.
*Barakallah fiikum.*
Astaghfirullahal azhiim..... *Ampunilah kami ya ALLAH jika di hati kami masih ada rasa bangga diri trhdp amal2 kami....* Aamiin
Subscribe to:
Posts (Atom)
